Gambaran Titian Shirathal Mustaqim Di Dunia

View previous topic View next topic Go down

Gambaran Titian Shirathal Mustaqim Di Dunia

Post by ibnuabbas on Thu May 24, 2012 8:46 pm


28 Jul 2007
Ust Dr Abdullah Yasin


عن النواس بن سمعان عن رسول الله صلى الله عليه وسلَّم قال ضَرَبَ اللهُ تعلى مَثَلاً صِرَاطاً مُسْتَقِيْمًا ، وَعَلَى جَنْبَتِي الصِّرَاطِ سُوْرَانِ ، فِيْهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ ، وَعَلَى الأبْوَابِ سُتُوْرٌ مُرْخَاةٌ ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَطِ دَاعٍ يَقُوْلُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ! ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيْعًا وَلاَ تَتَعوَّجُوا ، وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ ، فَإِذَا أَرَادَ الإِنْسَانُ أَنْ يَفْتَحَ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الأبْوابِ قَالَ: وَحْيَك لاَ تَفْتَحْهُ ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ ، فَالصِّرَاطُ الإسْلاَمَ ، وَاسُّوْرَانِ حَدُوْدُ اللهِ تَعَلَى ، والأبْوابُ المفتَّحَةُ محارِمُ الله تعَالى ، وذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللهِ ، وَالدَّاعِي مِنْ فَوْق وَاعِظُ اللهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ


Terjemahan:

Daripada Nawwas Bin Sam’aan daripada Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) sabdanya: “Allah membuat perumpamaan tentang Shiratal Mustaqim bahwa pada dua sisinya (kiri dan kanan) ada dua pagar, dan pada kedua-dua pagar tersebut terdapat banyak pintu yang sedang terbuka, dan pada tiap-tiap pintu itu pula ada tabir yang menutupinya, dan di atas pintu masuk ke jalan yang lurus itu ada penyeru yang memanggil: Hai sekalian manusia, masuklah kamu semua ke dalam “Jalan Yang Lurus” ini dan janganlah menyimpang (melencong)!, dan ada pula penyeru yang berada daripada atas jalan itu yang jika manusia ingin membuka sedikit tabir penutup pintu itu, lalu ia berkata: Celaka engkau, janganlah engkau buka tabir itu! Sebab jika engkau membukanya niscaya engkau akan terjerumus ke dalamnya. Jalan yang lurus itu adalah Islam dan dua pagar itu ialah batasan-batasan Allah (Hududullah), pintu-pintu yang terbuka itu larangan-larangan Allah dan penyeru yang memanggil dari pintu masuk ke jalan itu ialah Kitabullah (Al-Quran), dan penyeru yang berada di atas jalan itu pula ialah peringatan daripada Allah yang terdapat pada hati setiap muslim”.

[Hadis Hasan Sahih Riwayat Imam Ahmad]



Mukaddimah:

Shiratal Mustaqim adalah titian atau jembatan yang mesti dilalui oleh setiap insan di alam akhirat nanti. Titian inilah yang menghubungi antara Mauqif (Padang Mahsyar) dengan Jannah (Syurga) dan di bawah titian terdapat Naar (Neraka). Keadaan orang yang meniti di atasnya dan kecepatannya tidak sama, ada yang seperti kerdipan mata, ada yang seperti kilat, ada yang seperti angin dan sebagainya. Dan ada pula yang terjatuh di tengah jalan dan langsung masuk neraka.

Keadaan manusia di atas Shiratal Mustaqim di alam sana akan sama betul dengan keadaan manusia ketika mereka berada di atas Shiratul Mustaqim di dunia ini. Kalau ketika di dunia ini perjalanan mereka tetap di atas jalan yang lurus dan tidak melencong ke kiri dan ke kanan, maka di akhirat nanti nasib mereka juga akan demikian, berjalan tegap di atasnya dan akhirnya sampai dengan selamat ke syurga yang dituju. Tetapi jika sebaliknya, maka mereka pasti akan tergelincir dan seterusnya masuk ke dalam neraka, Wal ‘Iyadzu Billah.

Dan untuk memudahkan kita memahami makna sebenarnya Shiratal Mustaqim itu, maka Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) telah membuat suatu perumpamaan atau tamsilan yang cukup cantik dan bagus sekali untuk kita jadikan sebagai bahan renungan kita semua. Semoga dengan mengambil i’tibar ataupun pengajaran daripadanya kita akan termasuk di dalam golongan yang berjaya melintasi Shiratal Mustaqim di akhirat nanti, amin ya Rabbal ‘Aalamin.

Ringkasan tamsilan di atas ialah:

Shiratal Mustaqim ialah jalan lurus yang di kiri kanannya ada pagar, pada pagar terdapat banyak pintu yang terbuka, pintu-pintu tersebut hanya ditutup dengan tabir tipis, dan pada pangkal jalan yang lurus itu terdapat penyeru, dan di atas jalan juga ada penyeru. Jalan yang lurus itu adalah Islam, dan dua pagar adalah batasan-batasan ALLAH dan pintu-pintu yang terbuka itu adalah perkra-perkara yang diharamkan oleh ALLAH, dan penyeru di pangkal jalan adalah Al-Quran, dan penyeru di atas jalan pula adalah peringatan ALLAH yang ada pada setiap hati orang Islam.



Di Kiri Dan Kanannya Ada Pagar:

Berdasarkan hadis di atas Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) menjelaskan bahwa dua pagar yang dimaksudkan pada kiri dan kanan jalan yang lurus itu ialah batasan-batasan Allah (Hududdallah). Umat Islam wajib menjaga batasan-batasan Allah dan mereka dilarang melampaui batasan-batasan tersebut. Dan ini berbeda dengan orang kafir. Bagi mereka tidak ada pantang larang, bagi mereka sama saja antara halal dan haram. Itulah sebabnya maka Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) bersabda:

“Dunia adalah penjara bagi orang-orang yang beriman dan syurga bagi orang-orang yang kafir”

[HR Muslim]


Pada Pagar Terdapat Banyak Pintu Yang Terbuka Yang Hanya Ditutup Dengan Tabir Tipis

Nabi (sallallahu alaihi wasalam) menjelaskan dalam hadis bahwa pintu-pintu yang terbuka itu adalah perkara-perkara yang diharamkan Allah. Nabi (sallallahu alaihi wasalam) tidak mengatakan bahwa pintu itu tertutup. Ini menggambarkan betapa mudahnya manusia terjerumus ke dalam kancah maksiat. Kesempatan untuk melakukannya terbuka luas bagi orang yang mengingininya. Pintu itu juga digambarkan hanya ditutup dengan tabir yang tipis. Ini seolah-olah ingin menyatakan bahwa manusia tidak perlu bersusah-payah untuk membolehkan mereka terlibat dengan dosa dan maksiat. Kecuali orang yang mendapat perlindungan Allah SWT.


Penyeru Pada Pangkal Jalan Yang Lurus Itu Adalah Kitabullah.

Berdasarkan hadis di atas bahwa yang dimaksudkan dengan penyeru itu ialah Kitabullah, dia menyeru: Hai sekalian manusia, masuklah kamu semua ke dalam Jalan Yang Lurus, dan janganlah kamu melencong (menyeleweng).

Tujuan Al-Quran diturunkan oleh Allah SWT adalah sebagai pedoman bagi umat manusia, khususnya bagi orang-orang yang bertaqwa. Al-Quran menyeru kita agar menTauhidkan Allah dan mengikuti ajaran yang dibawa oleh Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam). Jika kita turuti kehendak seruan tersebut, berarti kita telah berada dalam Islam yang sebenarnya dan itulah Jalan Yang Lurus.

Allah SWT berfirman: “Inilah JalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain), karena (jalan-jalan itu) mencerai-beraikan kamu daripada jalanNya”. (Al-An’aam :153)


Penyeru Atas Jalan Itu Adalah Peringatan Allah Yang Ada Dalam Hati Setiap Muslim.

Gerak-geri dan tingkah laku manusia sangat berkaitan rapat dengan hatinya. Akhlak adalah cermin hati. Jika hatinya baik maka biasanya akan baik pula akhlaknya. Demikian jugalah sebaliknya. Jadi dalam hati kecil setiap muslim yang berimansenantiasa ada perasaan bencikan maksiat atau dosa.

Oleh sebab itu setiap manusia yang ingin menyingkap tabir pintu maksiat dalam kehidupannya sehari-hari, niscaya hati nurani yang beriman kepada Allah akan segera berseru: Celaka engkau! Jangan engkau buka tabir itu, sebab jika engkau buka juga nanti engkau akan terjerumus ke dalamnya.

Mungkin inilah sebabnya mengapa “Zikrul Qalb” iaitu zikir hati adalah lebih afdhal daripada “Zikrul Lisan” iaitu zikir lidah. Hati yang senantiasa ingat akan hukum-hakam Allah, dan hati yang senantiasa yakin bahwa Allahmelihat apa saja yang dia lakukan, akan dapat menasehati dan memberi peringatan kepada anggotanya yang akan melakukan maksiat. Ini berbeda kalau zikirnya hanya terbatas pada zikir lisan saja tanpa diikuti oleh zikir hati.


Kesimpulan:

1. Setiap muslim/muslimat memohon kepada Allah minima 17 kali dalam sehari agar mereka ditunjukkan ke Jalan Yang Lurus, “Ihdinash Shirathal Mustaqiim”. Ini menandakan bahwa Jalan Yang Lurus itu adalah sesuatu yang paling mustahak bagi umat manusia.

2. Para Mufassiriin (Pakar Tafsir) berbeda pendapat tentang makna Shirathal Mustaqiim. Ada yang menafsirkannya dengan Islam, Al-Quran, Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah. Kesemua tafsiran itu adalah benar karena saling melengkapi.

3. Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) menggambarkan dalam hadis di atas bahwa Jalan Yang Lurus itu adalah ISLAM. Dua pagar di kiri dan kanannya adalah batasan-batasan Allah. Pintu-pintu yang terbuka pada pagar adalah perkara yang diharamkan oleh Allah. Yang memanggil di permukaan jalan adalah Al-Quran, sedangkan yang memanggil dari atas jalan pula adalah suara hati muslim yang beriman kepada Allah.

4. Jadi Shirathal Mustaqiim yang ada di atas muka bumi bukanlah titian atau jembatan yang terbentang, tetapi ia adalah ISLAM yang kandungan utamanya ialah himpunan suruhan dan larangan Allah sebagaimana yang termaktub dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam).

5. Keadaan manusia ketika melalui Shirathal Mustaqiim di akhirat nanti adalah sama betul dengan keadaan mereka ketika meniti Shirathal Mustaqim di dunia ini. Semakin kuat dan kokoh pegangan mereka dengan Islam, maka akan semakin lancarlah perjalanan mereka di sana nanti. Al-Jazaa Min Jinsil ‘Amal (Balasan sesuai dengan jenis amal).

_________________
Kebaikan terdapat di dalam sifat mengikuti kaum Salaf,

Keburukan itu terdapat dalam sikap mengada-adakan hal yang baru kaum Khalaf.

DYQ dalam Fiqh Siyam

-
إذا جاء العالمُ الموثوقُ الإيمانِ ، المتفتحُ العقلِ ، الصائنُ اللسانِ ، البالغُ البيانِ ،المسموعُ الكلامِ ، ورأيتَهُ متطلعاً الكتبَ ، متجنباً الجدلَ ، مراعياً الخلافَ ، ميسّراً الناسَ ، فلا تتحذْه عدواً ، فإنه لِلّه وليٌ ، وللناس سراجٌ منيرٌ .

Apabila datang seorang berilmu yang diyakini imannya, terbuka pemikirannya, terpelihara lidahnya, jelas penerangannya, didengari ucapannya, dan kamu melihat dia banyak mengkaji buku-buku, menjauhi perdebatan, meraikan khilaf @perbezaan, memudahkan manusia, maka janganlah kamu mengambilnya sebagai musuh, kerana sesungguhnya pemelihara baginya Allah, dan bagi manusia dialah cahaya yang menerangi.

ibnuabbas
AHLI
AHLI

Posts: 30
Points: 54
Join date: 01/12/2011
Location: Klang

http://www.murabi6.wordpress.com

Back to top Go down

Re: Gambaran Titian Shirathal Mustaqim Di Dunia

Post by eimihar on Fri May 25, 2012 12:17 pm

salam,

adakah sirat al-mustaqim itu hanya dimaksudkan pada hari akhirat saja? bagaimana jika Rasulullah memaksudkan sirat al-mustaqim itu adalah pada kehidupan ini? Sebab, di akhirat kelak, apakah kita boleh lagi memilih untuk perkara2 yang jahat?

eimihar
AHLI
AHLI

Posts: 15
Points: 19
Join date: 12/02/2012

Back to top Go down

Re: Gambaran Titian Shirathal Mustaqim Di Dunia

Post by thtl on Fri May 25, 2012 2:37 pm

sirat di akhirat adalah yg real. ia bukan pilihan tapi ia adalah penentu nasib baik atau buruk anda. jika anda lepas, anda masuk syurga, jika anda jatuh, yg menunggu dibawahnya adalah neraka. itu maksud sirat yg hakiki

siratul mustaqim di dunia adalah majazi atau kiasan dan ia ada dalam surah al-fatihah,

jalan orang yg diberi nikmat (Islam),
bukan jalan orang yg dimurkai (jalan yahudi)

dan jalan orang yg sesat (jalan nasrani)

thtl
Admin
Admin

Posts: 9506
Points: 10278
Join date: 24/11/2011

Back to top Go down

Re: Gambaran Titian Shirathal Mustaqim Di Dunia

Post by eimihar on Fri May 25, 2012 5:40 pm

jazakallahhh syeikh...

eimihar
AHLI
AHLI

Posts: 15
Points: 19
Join date: 12/02/2012

Back to top Go down

Re: Gambaran Titian Shirathal Mustaqim Di Dunia

Post by zikrulmaut_sm on Sat May 26, 2012 3:17 pm

Kalau berkenaan perkataan "ahlul bid'ah" dan "ahlul hawa'", dua-dua ni golongan yang sama atau berbeza?

_________________
[Takkan beribadat pun berdosa?]

عن سعيد بن المسيب أنه رأى رجلا يصلي بعد طلوع الفجر أكثر من ركعتين يكثر فيها الركوع والسجود فنهاه. فقال: يا أبا محمد! أيعذبني الله على الصلاة؟! قال: لا ولكن يعذبك على خلاف السنة.
روى البيهقي بسند صحيح

Dari Said bin Musayyib, ia melihat seorang lelaki menunaikan shalat setelah terbit fajar lebih dari dua rakaat, ia memanjangkan rukuk dan sujudnya. Akhirnya Said bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata: “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku karena shalat? “Beliau menjawab: "Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi As-Sunnah”.

[ Hadits sahih riwayat Baihaqi dalam "As Sunan Al Kubra" II/466, Khatib Al Baghdadi dalam "Al Faqih wal mutafaqqih" I/147, Ad Darimi I/116].

zikrulmaut_sm
AHLI
AHLI

Posts: 513
Points: 765
Join date: 25/11/2011

http://facebook.com/syazwanmisran

Back to top Go down

Re: Gambaran Titian Shirathal Mustaqim Di Dunia

Post by Ad-Dien on Sat May 26, 2012 3:28 pm

zikrulmaut_sm wrote:Kalau berkenaan perkataan "ahlul bid'ah" dan "ahlul hawa'", dua-dua ni golongan yang sama atau berbeza?

ahlul bid'ah turut dikenali sebagai ahlul ahwa/ hawa (pengikut hawa nafsu).. namun ada sesetengah membezakannya, allahua'lam

قال -رحمهُ اللهُ- في
«الفتاوَى الكُبرَى»
(4/194):
«والبدعة التي يُعَدُّ بها الرجلُ مِن أهلِ الأهواء: ما اشتُهِرَ عندَ أهل العِلم بالسُّنَّة مُخالفتُها للكتاب والسُّنَّة؛ كبدعة الخوارجِ، والروافضِ، والقَدَرِيَّةِ، والمُرجِئةِ..».

Dalam al Fatawa al Kubro jilid 4 hal 194 Ibnu Taimiyyah mengatakan,
“Bid’ah yang menyebabkan pelakunya dinilai sebagai ahli hawa adalah bid’ah yang terkenal di kalangan para ulama ahli sunnah sebagai sebuah bid’ah yang jelas-jelas menyelisihi al Qur’an dan sunnah semisal bid’ah khawarij, rafidhah, qadariyyah dan murjiah”.

_________________
عقيدة السلف اصحاب الحديث

Fb: Ad-Dien

Ad-Dien
Admin
Admin

Posts: 3859
Points: 4179
Join date: 24/11/2011
Age: 24
Location: al-Kardawi

http://addienblog.blogspot.com

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum